Memengaruhi dengan Manfaat

Ditulis pada Rabu, 31 Juli 2019 | Kategori: Insights | Dilihat 500 kali

Kita seringkali merasa bahwa motivasi dan niat seseorang bisa dibeli dengan berbagai manfaat yang orang terima setelah mereka menunjukkan perilaku yang si dengan keinginan kita. Kita berusaha menjanjikan berbagai konsekuensi positif bila orang mau melakukan apa yang kita minta. Bila kita menjadikan pendekatan ini sebagai pelengkap saja mungkin tidak akan menjadi masalah, tapi banyak pemimpin menjadikan pendekatan ini menjadi satu-satunya cara yang diandalkan untuk memengaruhi orang.

Landasan untuk pendekatan manfaat adalah prinsip keadilan. Ini adalah pendekatan menang/menang, kita sama-sama dapat manfaat dari transaksi di antara kita. Bila Anda atau saya merasa kurang mendapatkan mendapatkan manfaat dari transaksi itu maka kita akan melakukan negosiasi ulang. Pendekatan ini sangat transaksional. Kita seperti sedang membeli makanan di sebuah restoran. Kita bayar apa yang ingin kita makan dan pihak restoran harus menyajikan apa yang kita inginkan. Di sini kita tidak perlu harus mendiskusikan visi dan misi, sejarah, atau latar belakang mengapa mereka harus memberikan layanan terbaik. Bila layanannya kurang maka kita tinggal meminta layanan tambahan sesuai dengan uang yang telah kita berikan. Apakah seluruh interaksi dan hubungan kita dengan orang lain bersifat transaksional seperti itu?

Seorang direktur perusahaan manufaktur menyampaikan pandangannya terkait memengaruhi dengan manfaat atau kesepakatan, “Sekarang ini zaman materi, orang bila tidak dijanjikan materi tidak akan jalan. Mereka melakukan apa yang kita targetkan bila ada bonus saja. Bila bonus tidak disediakan jangan harap orang mau berusaha lebih.” Pola pikir seperti sudah biasa kita temukan di berbagai organisasi atau perusahaan, bukan hal yang aneh.

Memberikan manfaat memang menciptakan dampak yang cepat terhadap perubahan. Tapi kita bila tidak cermat dalam melakukannya kita akan membuat orang memiliki orientasi yang dangkal dalam melakukan segala sesuatunya. Hubungan kita dengan merekapun akan sedangkal interaksi kita dengan pelayan di restoran di atas. Kita bayar dan kita dapat layanan. Kita tidak bayar maka kita tidak akan mendapatkan apapun.

Anak yang harus selalu diberikan sesuatu baru mau melakukan sesuatu akan menjadi sangat tergantung pada konsekuensi itu dari orangtuanya. Karyawan yang selalu dijanjikan dan diberikan berbagai manfaat dari apa yang mereka lakukan kita khawatirkan akan tumbuh menjadi karyawan yang memiliki makna dangkal terhadap segala hal yang ia lakukan untuk organisasi.

Seringkali kesepakatan-kesepakatan harus dibuat untuk mendukung pola memengaruhi ini. Orang selalu menunggu kesepakatan itu sebelum melakukan segalanya. Di masa sekarang ini dimana kita dituntut untuk berespons cepat dalam berbagai situasi organisasi alangkah lambatnya bila segala sesuatunya harus menunggu kesepakatan terlebih dahulu. Tapi begitulah bila pemimpin tidak memiliki kredibilitas untuk diikuti.

Banyak upaya perubahan di organisasi atau perusahaan tidak langsung berjalan dengan baik. Karena sebagian besar orang telah memiliki mentalitas ‘apa manfaatnya bagiku’. Para pemimpin sulit menggerakkan orang terhadap perubahan sebelum mereka bicara tentang konsekuensi positif dari perubahan itu. Sebuah situasi yang sangat sulit, karena perubahan selalu menuntut kecepatan dan kesigapan. Bagaikan menghadapi badai di lautan, kapal kita keburu tenggelam sebelum orang-orang memutuskan untuk menjadi bagian dari perubahan.

Apresiasi memang penting untuk dilakukan agar orang tidak meragukan komitmen kita dalam menghargai kinerja mereka. Tapi kita melakukannya bukan dengan mendahulukan apresiasi dalam bentuk hadiah atau uang, namun dengan pengakuan dan penghargaan yang tulus atas kontribusi orang lain. Dengan menghargai kontribusi orang lain secara tulus setelah mereka melakukan yang terbaik maka orang akan memandang bahwa kita telah menunjukkan kepedulian atau perhatian yang besar pada apa yang mereka lakukan, sehingga merekapun terdorong untuk melakukan segalanya dengan lebih baik. (Bambang Triyawan)

 

NEWS AND INSIGHTS

Maximum Action

Maximum Action

Visi dan prioritas tanpa aksi tidak akan menghasilkan apapun. Sehebat apapun strategi Anda, eksekusilah yang akan membuat perbedaan. Tanpa eksekusi kita tidak akan dapat mengubah ...
Prioritas Menggerakkan Kinerja

Prioritas Menggerakkan Kinerja

Pemimpin yang bekerja tanpa prioritas tidak akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi perusahaan. Karena ia sekedar tampak sibuk, namun sibuknya belum tentu benar-benar produktif. Pemimpin ...
Prinsip 80/20

Prinsip 80/20

Ahli ekonomi Italia, Vilfredo Pareto, bertahun-tahun yang lalu menemukan prinsip yang disebut 80/20 atau sering pula disebut prinsip pareto. Ini menghubungkan sebab dan akibat dalam ...
Fokus pada Prioritas

Fokus pada Prioritas

Pemimpin membuktikan komitmennya terhadap pencapaian visi masa depan dengan menetapkan prioritas dalam setiap aktivitasnya. Prioritas membantu pemimpin dan timnya untuk lebih fokus dalam mencapai tujuan ...
Konsisten pada Visi

Konsisten pada Visi

Untuk mencapai keberhasilan, pemimpin dan organisasi harus konsisten dalam visinya. Bayangkan seorang pilot yang mengubah arah penerbangan. Dalam penerbangan menyimpang satu derajat dari tujuan semula ...
Menginspirasikan Visi Bersama

Menginspirasikan Visi Bersama

Visi yang sudah terpetakan dengan jelas bila tidak disosialisasikan kepada semua orang di dalam organisasi atau perusahaan tidak akan memberikan dampak apapun. Visi dapat menyemangati ...

Temukan Kami

Hubungi Kami

  • Alamat Kami:
    Graha Kadin Kota Bandung, KBBC Suite, Jl Talaga Bodas 31 Bandung
  • 0812 2469 6732
  • 0812 2469 6732
  • info@invis-coach.com
Developed by Naevaweb.com