Memengaruhi dengan Paksaan

Ditulis pada Kamis, 08 Agustus 2019 | Kategori: Insights | Dilihat 528 kali

Cara tercepat untuk memengaruhi perilaku yang tidak diinginkan adalah memberlakukan ancaman atau hukuman bagi mereka yang tidak bersedia melakukan apa yang kita minta. Ini adalah cara paksaan. Namun cara ini sebenarnya tidak memiliki pengaruh jangka panjang. Orang harus selalu diancam agar mereka mau melakukan apa yang diminta.

Kenyataannya memang masih banyak pemimpin dan organisasi menggunakan cara paksaan untuk memengaruhi orang. Tempat kerja masih menjadi tempat untuk menunjukkan kekuasaan para pemimpin otoriter yang banyak menggunakan hukuman atau konsekuensi negatif sebagai penggerak orang yang utama.

Ungkapan yang sering disampaikan oleh pemimpin yang suka memaksa, ”Kerjakan ini atau kalau tidak saya akan memotong penghasilan Anda.” Dan dalam tingkat yang paling ekstrim mereka akan mengatakan,”Saya lihat Anda tidak mau berubah. Bila sampai akhir bulan ini Anda masih tetap seperti itu maka jangan harap Anda masih bekerja di perusahaan ini bulan depan.”

Cara paksaan atau hukuman jelas akan menciptakan atmosfir negatif di dalam organisasi. Ada banyak dampak negatif yang diciptakan oleh pola pendekatan seperti ini.

Pertama, biasanya pemimpin akan bersikap tidak adil dalam pendekatan dengan ancaman. Ada orang yang dia ancam dan hukum dengan sangat keras dan ada pula orang yang akan diberikan toleransi secara berlebihan.

Kedua, para pemimpin yang melakukan pendekatan ini biasanya akan menggunakan ancaman yang sama. Pemimpin akan sering merasa ragu dengan pola yang mereka terapkan sehingga mereka tidak punya alternatif lain selain menggunakan model sanksi atau hukuman yang sama dari waktu ke waktu.

Ketiga, seiring dengan perjalanan waktu ancaman akan kehilangan pengaruhnya. Untuk tetap memiliki pengaruh ancaman harus terus ditingkatkan. Mau sampai kapan hal ini dilakukan? Orang menjadi terbiasa dengan berbagai ancaman dan akhirnya akan mengabaikannya.

Keempat, orang akan mencari jalan untuk menghindarinya. Maka akan muncul di organisasi orang-orang cerdik yang bisa mengakali sistem. Mereka mencari cara agar tidak terkena sanksi atau hukuman. Mereka akan bekerjasama dengan orang-orang yang juga memiliki niat untuk mencari celah dari kelemahan sistem.

Kelima, akibat jangka panjang yang sangat parah. Dengan pola pendekatan dengan ancaman ini banyak orang yang akan marah, apatis, benci, dan frustrasi, yang akhirnya menjadi lebih mahal dari perilaku yang kita inginkan agar mereka lakukan. Kita membuat orang melakukan sesuatu tapi mereka jadi membenci kita, apakah ini sepadan?

Saat menggunakan paksaan bukan hanya orang lain yang akan tertekan, kitapun akan tertekan. Prinsip ini benar adanya,”Anda tidak mungkin menekan seseorang tanpa membuat diri sendiri tertekan.” Pemimpin yang menggunakan paksaan harus terus berjaga-jaga, mereka tidak bisa rileks. Mereka merasa bahwa orang tidak mau bertanggung jawab karena itu akan terus mengawasi orang dalam melakukan segala sesuatunya. Bila perlu ia menggunakan jasa asisten untuk membantunya mengawasi orang-orang.

Apa yang terjadi saat pemimpin pemaksa tidak hadir? Orang-orang akan merasa bebas dan mereka bisa melakukan segalanya dalam cara-cara yang sangat merugikan organisasi. Orang yang ditekan biasanya akan balas mensabotase, mereka merasa bahwa hal itu adil karena mereka telah mendapatkan berbagai tekanan yang luar biasa di dalam organisasi. Kebencian bisa berakibat fatal bagi produktivitas. Saat pemimpin tidak ada orang akan melambatkan ritme kinerjanya bahkan mengabaikan keluhan pelanggan. Reaksi orang sangat sederhana bila ditekan, balas saja.

Pikiran dan hati manusia tidak bisa dikendalikan dengan paksaan dan ancaman. Mereka akan berubah dengan kesadaran pribadi dan rasa tanggung jawab. Tekanan dari luar hanya akan merusak sistem motivasi pribadi seseorang. Tidak sedikit anak-anak yang ditekan sangat keras oleh orangtuanya akhirnya kabur dari rumahnya dengan membawa spirit kebebasan, mereka akan hidup dengan nilai-nilai yang sangat berlawanan dengan harapan orangtuanya.

Pemimpin yang menggunakan ancaman dalam setiap kesempatan tidak akan mendapatkan pengikut yang loyal karena orang-orang merasa sangat tidak nyaman bersamanya. Orang akan selalu dihantui ketakutan karena suatu hari mereka bisa saja jadi korban dari tindakan represif pemimpin. Apakah kita masih akan menggunakan pola ini?

Rasa takut akan mematikan kreativitas dan inovasi. Orang yang merasa terancam hanya memikirkan cara untuk lepas dari situasi buruk yang mengurung mereka, kita tidak bisa berharap mereka akan memberikan kontribusi ide dan gagasan cemerlang bagi organisasi di dalam situasi yang negatif. Edward Deming, seorang pakar kualitas, mengatakan bahwa pertama yang harus dilakukan pemimpin untuk meningkatkan inovasi dan kualitas adalah menyingkirkan rasa takut. Kualitas itu tidak mungkin diwujudkan oleh orang-orang yang takut mengatakan hal yang sebenarnya. Bagaimana orang akan mengatakan hal yang sebenarnya bila mereka akan dihukum bila ada hal salah yang mereka lakukan?

Apakah kita harus membuang konsekuensi negatif sama sekali dalam upaya mendong perubahan orang lain? Tidak juga sebenarnya, tapi jadikan itu sebagai langkah terakhir bila kita benar-benar sudah tidak memiliki solusi lain dalam mengubah seseorang. Jangan jadikan jalan pertama dan satu-satunya. Ada sedikit orang yang memang masuk sebagai kategori ‘orang sulit’ atau ‘difficult person’. Mereka adalah orang-orang yang berpotensi merusak budaya organisasi yang sedang kita bangun. Gunakan konsekuensi negatif kepada mereka saja, jangan kepada semua orang. Itupun setelah kita menggunakan berbagai pendekatan lembut berbasis karakter dengan maksimal.

Kesimpulannya, pola paksaan tidak sesuai untuk semua orang. Di masa kini kita sedang memimpin orang-orang yang lebih senang diajak berdiskusi secara terbuka mengenai perilaku mereka daripada selalu diancam untuk berubah. (Bambang Triyawan)

 

NEWS AND INSIGHTS

Maximum Action

Maximum Action

Visi dan prioritas tanpa aksi tidak akan menghasilkan apapun. Sehebat apapun strategi Anda, eksekusilah yang akan membuat perbedaan. Tanpa eksekusi kita tidak akan dapat mengubah ...
Prioritas Menggerakkan Kinerja

Prioritas Menggerakkan Kinerja

Pemimpin yang bekerja tanpa prioritas tidak akan menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi perusahaan. Karena ia sekedar tampak sibuk, namun sibuknya belum tentu benar-benar produktif. Pemimpin ...
Prinsip 80/20

Prinsip 80/20

Ahli ekonomi Italia, Vilfredo Pareto, bertahun-tahun yang lalu menemukan prinsip yang disebut 80/20 atau sering pula disebut prinsip pareto. Ini menghubungkan sebab dan akibat dalam ...
Fokus pada Prioritas

Fokus pada Prioritas

Pemimpin membuktikan komitmennya terhadap pencapaian visi masa depan dengan menetapkan prioritas dalam setiap aktivitasnya. Prioritas membantu pemimpin dan timnya untuk lebih fokus dalam mencapai tujuan ...
Konsisten pada Visi

Konsisten pada Visi

Untuk mencapai keberhasilan, pemimpin dan organisasi harus konsisten dalam visinya. Bayangkan seorang pilot yang mengubah arah penerbangan. Dalam penerbangan menyimpang satu derajat dari tujuan semula ...
Menginspirasikan Visi Bersama

Menginspirasikan Visi Bersama

Visi yang sudah terpetakan dengan jelas bila tidak disosialisasikan kepada semua orang di dalam organisasi atau perusahaan tidak akan memberikan dampak apapun. Visi dapat menyemangati ...

Temukan Kami

Hubungi Kami

  • Alamat Kami:
    Graha Kadin Kota Bandung, KBBC Suite, Jl Talaga Bodas 31 Bandung
  • 0812 2469 6732
  • 0812 2469 6732
  • info@invis-coach.com
Developed by Naevaweb.com